Biarkanlah Sepak Bola Hidup Dalam Ketidaksempurnaannya

Gambar

“Some people believe football is a matter of life and death, I am very disappointed with that attitude. I can assure you it is much, much more important than that..” – Bill SHANKLY

Hanya sedikit orang yg mungkin tidak pernah membaca kutipan di atas. Terucap dari mulut mantan manajer legendaris Liverpool, Bill Shankly, kata-kata tersebut sering menjadi bahan refleksi apabila terjadi sebuah tragedi, entah itu baik ataupun buruk.

Jika kita sedang membahas fanatisme yg dimiliki para ultras dan hooligans, jelas kebanggaan akan klub bisa mengalahkan segalanya. Pukul sana, tendang sini. Selama hanya harga diri yg bisa dibawa mati, tak masalah menomorduakan kemanusiaan. Namun, ketika sudah menyentuh subjek “Tragedi Heysel” atau “Kematian Andres Escobar”, rasanya aneh jika melihat sebuah objek berbentuk bulat bisa membuat oknum-oknum tertentu memudahkan gairah akan olahraga yg “Hak Cipta”-nya masih dapat diperdebatkan ini sebagai tolak ukur pantas tidaknya seorang manusia untuk hidup.

“Bagi saya pribadi, sepak bola adalah cerminan dari hidup ini sendiri. Emosi dan hasrat akan melahirkan drama-drama baru di atas lapangan hijau. Tangis, tawa, kekecewaan, ataupun kebahagiaan adalah bukti bahwa kita hidup atas sepak bola, dan sepak bola hidup atas kita. Ya, setidaknya bagi kita yg jatuh cinta kepadanya..”

Dewasa ini, seiring dengan perkembangan teknologi, entah mengapa saya mulai merasa “hidup” saya menjadi terancam. Saya takut, di kala cucu saya mulai mengerti mengapa orang Inggris mengejek orang Amerika Serikat dan Kanada yang menyebut football sebagai soccer, cermin kehidupan itu sudah retak terinjak oleh industri yg terus merangkak menuju kemapanan.

Salah satu bukti terbaru terpampang jelas pada pertandingan antara Getafe melawan Atletico Madrid. Bukan, ini bukan soal keberhasilan penonton yg mengganggu konsentrasi Diego Costa ketika mengeksekusi penalti dengan cara yg kurang senonoh untuk ditunjukkan di muka umum. Ini adalah soal asisten pelatih Los Rojiblancos, German Burgos, yg menggunakan Google Glass untuk menganalisa jalannya pertandingan.

Jika dilihat dari kacamata staf kepelatihan, tak ada satu titik pun noda pada eksperimen yg diprakarsai oleh Universidad Catatolica San Antonio de Murcia (UCAM), La Liga, dan Mediapro ini. Bahkan, bisa dibilang ini adalah salah satu langkah kecil yg besar untuk kehidupan sepak bola dunia di masa mendatang.

Seusai laga, Burgos mengakui sendiri bahwa ia sangat terbantu dengan program tersebut. “Kacamata ini hebat. Ini sangat berguna bagi para pelatih. Anda melihat seluruh detail pertandingan pada waktu yang riil. Anda bisa mengatur terlebih dahulu apa yg ingin Anda lihat, dan sesudahnya Anda bisa memperbaiki hal-hal yg salah. Ini akan menjadi masa depan..” ujar pelatih asal Argentina itu dalam sesi wawancara.

Menurut Inside Spanish Football, Burgos memilih pengaturan agar dapat melihat statistik secara umum, perkembangan permainan, dan total tendangan pada area tertentu. Dengan terhubungnya Google Glass pada wifi, data akan otomatis terbaharui setiap 30 detik, atau bisa juga dengan melambaikan tangan di depan kacamata.

Yg lebih mengerikan adalah pernyataan dari LFP yg berniat membuat liga Spanyol menjadi liga terbaik di dunia dengan cara ini. Memaksimalkan teknologi demi meraih ketidaksempurnaan paling sempurna.Di sinilah ketakutan saya muncul. Sama halnya dengan teknologi garis gawang, yang amat sangat berpotensi merusak berbagai drama dalam sepak bola, penggunaan Google Glass juga memiliki potensi yg sama.

Salah satu seni dalam sepak bola adalah kepintaran pelatih dalam meracik taktik, membaca arus permainan, hingga mengetahui mentalitas para pemain. Ini adalah hal-hal yg selama ini saya agung-agungkan atas nama serendipitous.

Saya tidak bisa membayangkan apabila suatu saat nanti para pelatih melakukan pergantian pemain karena mengandalkan statistik yg terpampang di Google Glass. Kembali, sebenarnya tidak ada yg salah dari cara ini. Selama halal, tidak ada yg perlu diperdebatkan. Hanya saja, esensi akan hidup yg penuh kejutan itu bisa saja tererosi begitu cepatnya dalam lipatan ombak angka dan persentase.

Google Glass mungkin hanya salah satu alat dari puluhan atau bahkan ratusan alat yg nantinya akan diterapkan dalam sepak bola. Namun, justru kata “mungkin” tersebutlah yg membuat hati saya semakin tersayat. Saya tentu tidak ingin ada yg menemukan teknologi yg bisa membuat para pelatih dapat secara tepat membaca emosi pemain atau membuat wasit bisa menganulir gol kontroversial.

Saya takut, tidak akan ada lagi kontroversi-kontroversi yg kelak melegenda seperti gol tangan Tuhan Maradona, gol hantu Geoff Hurst, hingga yg terkini, kartu merah Kieran Gibbs yg sejatinya adalah bukti bahwa ketidaksempurnaan itu indah jika dilihat dari sisi memori.

“Selebrasi menghisap kokain ala Robbie Fowler.?” Jangan harap. “Tiga menit ajaib Manchester United di Nou Camp tahun 1999.?” Tidak akan dapat terulang karena pelatih lawan telah mengetahui taktik yg tepat untuk mematikan Ole Gunnar Solskjaer dan Teddy Sheringham.

“Bayangkan juga apabila Pep Guardiola tidak akan menurunkan Arjen Robben karena mengetahui bahwa pemain sayap asal Belanda tersebut sedang bermasalah dengan istrinya di rumah.?” Tentu tidak akan ada nada-nada yg tak terbaca dari setiap langkah para pemain di lapangan.

Sejujurnya, mungkin alangkah lebih baik jika teknologi seperti Google Glass hanya dapat digunakan seusai atau ketika jeda pertandingan. Biarkanlah setiap individu di lapangan mencari sendiri cara terbaik dan terindah untuk meraih kemenangan lewat daya pikir serta kreativitas mereka. Menganalisa setiap inci lubang yg menunggu takdir untuk terpeksploitasi, menjadi jebakan yg dalam bagi sang lawan.

Saya bukan seorang hipokrit yg menentang modern football. Saya adalah salah satu penikmat sejati dari kelonggaran menyaksikan liga-liga dunia secara gratis dari layar kaca. Hanya saja, tidak adil rasanya jika sang “modern” justru jadi memperketat kemungkinan keajaiban yg dapat terjadi.

Wanda-Nara-Mauro-Icardi-e-Maxi-Lopez-gossip-in-campo

Menyempurnakan sepak bola dengan jalan seperti ini adalah salah satu cara yg akan saya tentang selamanya. Saya mencintai olahraga ini justru karena ketidaksempurnaannya. “Bukankah Anda juga.?” Saya harap demikian. Karena jika kita mencintai kesempurnaannya saja, tidak mungkin ada “Derby Wanda” antara Maxi Lopez dan Mauro Icardi.

“Setidaknya, itulah bukti jelas betapa nilai akan hidup dapat tertuang dengan rapi di atas rumput hijau nan megah dalam alunan pengingkaran akan kesempurnaan..”

Oleh: Evans Edgar Simon (@eeepan)