Atletico yg Memberi Harapan

Gambar

Pada hari Sabtu malam (24/05/2014) lalu, mata pencinta sepak bola di seluruh dunia mengarah ke Estadio da Luz. Stadion yg menjadi tempat digelarnya perhelatan puncak Liga Champions musim ini, yg mempertemukan dua tim Spanyol dari kota yg sama, Madrid. Real Madrid vs Atletico Madrid.

Jujur, final ini mengingatkan saya akan final Liga Champions musim lalu antara Borussia Dortmund vs FC Bayern. Dua tim dari negara yg sama yang berhasil meruntuhkan tim-tim besar Eropa lainnya. Satu tim mengejutkan menghadapi sebuah tim unggulan yg sudah diprediksikan bakal melaju jauh di kancah terbesar Eropa tersebut.

Saya mungkin sudah berkali-kali berkata, bahwa Atletico musim ini laiknya Dortmund musim lalu. Sebuah tim mengejutkan yg tak memiliki banyak bintang di dalamnya, serta mengandalkan kolektivitas serta permainan yg membuat semua penggemar sepak bola terbelalak. Memiliki pelatih yg sama-sama memiliki semangat berapi-api dan berhasil menularkannya ke skuad, Atleti dan Dortmund membuktikan bahwa sepak bola masih mampu hidup tanpa dominasi uang didalamnya. Kedua tim ini jelas menjadi kesukaan banyak fans sepak bola netral yg muak akan triliunan rupiah yg dikeluarkan tim-tim kaya macam Real Madrid, Chelsea, Manchester City hingga Paris Saint-Germain untuk membangun skuadnya.

Gambar

Saya teringat sebuah pernyataan Juergen Klopp, pelatih Dortmund, yg berkata bahwa butuh waktu bagi timnya untuk bisa mendapat lebih dari satu gelar dalam satu musim. Kedalaman skuad menjadi masalahnya. Mereka pun mempertahankan tradisi membeli pemain-pemain muda yg terbilang potensial dan tak terlalu dikenal ketimbang membeli pemain bintang. Musim lalu,Dortmund tak maksimal tampil di Bundesliga 1 meski finis di peringkat dua, namun berhasil mengejutkan semua pihak dengan performa super di Liga Champions. Anda tentu ingat ketika El Real harus tunduk 1-4 karena quattrick Lewandowski. Sedangkan pada musim-musim sebelumnya, Dortmund lebih fokus di Bundesliga dan, terbukti, mereka mampu juara dua musim berturut-turut.

Sayangnya, Bayern bersama Jupp Heynckes-nya berhasil membuat mimpi Dortmund untuk menjadi jawara Eropa kandas. Die Borussen kalah di partai puncak dan membuat Bayern mengakhiri musim dengan merengkuh treble.

Ketika Klopp membutuhkan waktu setidaknya 3-4 tahun untuk membawa Dortmund menjadi jawara di negeri sendiri dan diperhitungkan di Eropa, mantan gelandang bertahan nan bengal asal Argentina, Diego Simeone, membuktikan bahwa tim “miskin” sebetulnya mampu meraih prestasi secara “instan”. Selama tiga tahun menjabat, sejak pertengahan musim 2011-12, sosok yg akrab disapa Cholo ini pelan tapi pasti memberikan gelar demi gelar kepada Atletico. Dimulai dari gelar juara Europa League 2012, lalu Piala Super Eropa di tahun yg sama, dan kemudian Copa del Rey 2013. Musim ini, Atletico berhasil menjungkalkan duopoli di Liga BBVA setelah menjadi kampiun dan membuat Real Madrid serta Barcelona, dua tim yg silih berganti mendominasi liga selama satu dekade terakhir, gigit jari.

Gambar

Bahkan Cholo nyaris membuat Atletico mengangkat dua trofi paling bergengsi sekaligus karena mampu membawa Los Rojiblancos ke final Liga Champions, dan menghadapi rival sekota mereka, yg jelas jauh lebih kaya. Mimpi para suporter Atletico untuk melihat timnya menjadi tim terbaik di Eropa tahun ini nyaris terealisasi setelah Atletico mampu memimpin 1-0 hingga 90 menit laga berlangsung meski tanpa dua pemain terpenting mereka, Diego Costa (yg hanya bermain delapan menit), dan Arda Turan, yg hanya mampu harap-harap cemas di pinggir lapangan karena cedera yg dialami.

Sayang, hasrat dan semangat sepanjang laga, plus pertahanan yg sangat ketat dan permainan keras, tak mampu membuat mereka bertahan di lima menit tambahan waktu. Gol Sergio Ramos pada menit 93 membuat Luis Aragones harus menangis dari surga. Pada babak tambahan pun, Anda seperti melihat Atletico yg panik, tegang, dan lelah. Tiga gol pun dilesakkan Gareth Bale, Marcelo, dan Cristiano Ronaldo ke gawang Thibaut Courtois. Atletico takluk, sementara Madrid meraih mimpi La Decima yg tersimpan sejak 2002. Anti-klimaks.!

Gambar

Dua deja vu terjadi pada laga ini. Pertama, tim yg digemari banyak fans netral, yg tak mengandalkan uang, harus kembali takluk oleh tim kaya. Atletico mengikuti jejak Dortmund di Liga Champions musim lalu yg terhenti di laga final.

Kedua, jalan cerita final musim ini tak berbeda jauh dengan 40 tahun lalu, ketika Atletico untuk pertama kalinya berhasil melaju ke final Piala Champions. Saat itu Luis Aragones nyaris membawa Los Rojiblancos mengangkat trofi tapi gagal. Gol tendangan bebas melengkung Aragones ke gawang Bayern Munich beberapa menit sebelum laga usai berhasil disamakan Hans-Georg Schwarzenbeck di masa injury time dan memaksa laga ulangan dua hari kemudian. Pada laga ulangan itu, Atletico dibantai 0-4.

Final Liga Champions musim ini pun mengingatkan kita pada kejadian itu. Atletico unggul lebih dahulu setelah gol Diego Godin dan Atletico berhasil membuat Real Madrid frustrasi. Tetapi, gol di masa injury time dari Sergio Ramos membuyarkan segalanya. Dan babak tambahan di laga ini mirip seperti laga ulangan di final Piala Champions 1974: Atletico dibuat tak berkutik seperti anak ayam.

Gambar

Anti-klimaks.? Tak sepenuhnya, Atletico sudah memberikan segalanya sepanjang musim ini. Gary Lineker berkata bahwa Atletico adalah tim yg paling memperlihatkan karakter pelatihnya sendiri. Ya, Simeone berhasil mentranformasi semua pemain di skuad menjadi dirinya. Haus akan kemenangan, keras, memiliki semangat yg menggebu dan luar biasa. Pun pada babak tambahan mereka memperlihatkan sisi negatif Simeone yg kelelahan dan kehilangan arah, tak ada tujuan.

Gambar

Anda tentu melihat momen dimana Simeone meminta fans tetap bersemangat sesaat gol Ramos, memaksa para pemainnya untuk tetap tenang meski kondisi berbalik. Walau pada akhirnya, emosi sang pelatih pecah di akhir lapangan karena tindakan Raphael Varane yg menendang bola ke arahnya.

Tangis dan kekecewaan pasti terjadi di pihak Atletico. Tetapi tak ada yg harus disesali. Raihan Atletico menjadi harapan tersendiri bagi tim-tim yg tak memiliki sumber dana melimpah. Atletico bersama Dortmund menjadi contoh bahwa dengan karakter dan niat besar, semua tim, tak terkecuali, bisa menghantam dan mempermalukan tim-tim besar nan kaya.

Gambar

Harapan seluruh fans Atleti hingga fans netral jelas: semoga Simeone tak tergiur uang yang pastinya ditawarkan oleh tim-tim besar lain demi merekrut dirinya. Kemudian membuat kisah indah sendiri bersama Atletico agar menjadi legenda sesungguhnya layaknya Helenio Herrera.

Menarik untuk menunggu kisah apa yg terjadi musim depan. Siapa lagi yg akan menjadi The Next Dortmund dan The Next Atletico.? Siapa lagi yg akan memperlihatkan taktik menawan yg berbeda dan menciptakan kejutan.? Dan mampukah Atletico kembali merusak dominasi Barcelona dan Madrid yg jelas akan banyak bergerak di bursa transfer musim panas ini.?  Pertanyaan-pertanyaan tersebut saat ini jauh lebih menarik ketimbang perkiraan pemain yg datang ke klub tertentu di bursa transfer nanti.

“Terima Kasih, Atleti.!”

Oleh: Redzi Arya Pratama (@redzkop)

Advertisements