120 Menit untuk Mencapai La Decima

Gambar

Bagi publik sepak bola Argentina, angka sepuluh tak jarang memiliki konotasi ke arah enganche, atau tipe playmaker khas Argentina. Menurut Hugo Asch, seorang jurnalis sepak bola asal Argentina, enganche adalah seorang pesepak bola layaknya seniman gundah yg sulit dimengerti banyak orang, yg kerap dianggap gila, tetapi adalah sesuatu yg salah bila dia berpikir waras.

Juan Roman Riquelme adalah salah satu enganche, atau pemain nomor sepuluh terbaik yg pernah ada di Argentina. Ekspresi wajahnya yg datar begitu kontras dengan kemampuan olah bolanya yg seperti sebuah ilmu sihir. Jorge Valdano, legenda sepak bola asal Argentina, pernah mencoba menggambarkan isi pikiran Riquelme melalui sebuah komentarnya:  Jika kita akan melakukan perjalanan dari titik A ke titik B, kita akan selalu mengambil rute tercepat ke titik tujuan tersebut. Tetapi Riquelme berbeda, dia akan memilih melalui jalan berkelok-kelok yg mungkin akan membutuhkan waktu sekitar enam jam perjalanan untuk sampai ke titik tujuan tersebut. Namun, dalam enam jam perjalanan tersebut dapat dipastikan mata kita akan dipenuhi oleh pemandangan yg sangat indah.

Bagi Real Madrid, angka sepuluh tentu mempunyai persepsi yang berbeda dibandingkan dengan publik sepak bola Argentina. Bagi mereka, angka sepuluh berarti “La Decima”, alias gelar juara Piala Eropa yg kesepuluh, yg dapat dijadikan sebagai simbol kedigdayaan mereka di Eropa.  Sebuah pencapaian yg menurut Iker Casillas lebih penting daripada menjadi juara Piala Dunia.

Menariknya, proses terakhir Madrid untuk mencapai La Decima yg mereka idam-idamkan tersebut sejalan dengan isi pikiran Juan Roman Riquelme yg digambarkan oleh komentar Jorge Valdano: berkelok-kelok, namun membuat mata kita dipenuhi dengan pemandangan sangat yg indah.

Tepat seminggu sebelum pertandingan final Liga Champions Eropa 2014 digelar, Atletico Madrid berhasil memastikan diri menjadi yg terbaik di kancah La Liga musim 2013-2014. Setelah pertandingan berakhir, Camp Nou, tempat di mana Atletico memainkan pertandingan terakhir liga sekaligus pertandingan yg amat menentukan, publik tuan rumah, alias para suporter Barcelona, dengan serentak memberikan standing ovation. Dongeng indah yg dibangun oleh Diego Simeone dan anak asuhnya memaksa suporter tuan rumah ikut berdiri berdampingan dengan suporter Atetico untuk memberikan apresiasi terhadap kesuksesan Atletico Madrid.

Atletico Madrid tentunya berharap dongeng indah tersebut tak berhenti di Camp Nou. Mereka berharap dongeng indah tersebut berakhir dengan kemenangan atas Real Madrid pada pertandingan final Piala Eropa 2014 yang digelar di stadion Da Luz, Lisbon, Portugal. Namun sayang, saat suporter mereka memberikan standing ovation kepada Raul Garcia ketika ia ditarik keluar pada menit ke-66, dongeng indah tersebut ikut berakhir. Setelah Raul Garcia ditarik keluar, malapetaka secara pelan tapi pasti datang menghampiri Atletico. Real Madrid berhasil bangkit, untuk kemudian membalikkan keadaan, Atletico Madrid sampai menit ke-66 masih unggul 1-0, dan berhasil meraih gelar kesepuluh yg begitu mereka damba-dambakan sejak 12 tahun yg lalu.

Setelah melalui babak perpanjangan waktu, Real Madrid akhirnya berhasil mengalahkan Atletico Madrid dengan skor 4-1 dengan tiga gol tercipta di 2×15 menit di luar waktu normal. Lalu, bagaimana itu bisa terjadi.?

Kesalahan Diego Simeone dalam Membaca Situasi

Gambar

Diego Simeone adalah orang paling berjasa atas prestasi yang berhasil diraih Atletico Madrid selama beberapa musim belakangan, yg mencapai puncaknya pada musim ini. Simeone mampu meracik skuad sederhana Atletico menjadi sebuah kekuatan mengerikan: agresif, powerful, dan selalu ingin menang. Namun sayang, di saat Atletico seharusnya membutuhkan racikan strategi yg tepat, Simeone justru melakukan beberapa kesalahan.

Tidak bisa dipungkiri, Diego Costa adalah senjata andalan Atletico Madrid di sepanjang musim ini. Mesin gol kelahiran Brasil ini sangat dibutuhkan untuk menghadapi tangguhnya lini belakang Madrid. Namun, apakah tidak akan menjadi masalah, apabila Diego Costa yg belum sembuh benar dari cedera dipaksa untuk tetap ambil bagian pada pertandingan tersebut.?

Pertandingan baru berjalan beberapa menit, cedera Costa kambuh. Simeone terpaksa melakukan pergantian pemain. Jatah pergantian pemain yg bisa digunakan pada saat-saat krusial, untuk perubahan taktik atau untuk mengganti pemain Atletico yg kelelahan pada akhir pertandingan, berkurang. Dengan pertandingan yang belum pasti akan berakhir dalam waktu 90 menit, Atletico tentu mengalami kerugian yg sangat besar. Kesalahan yang dilakukan Diego Simeone masih berlanjut pada pertandingan tersebut.

Pada paruh pertama laga, Raul Garcia tampil sangat tangguh di sisi kanan lapangan tengah Atletico Madrid. Menggantikan Arda Turan yg tak bisa tampil karena cedera, kemampuan defensif Garcia membuat sisi sebelah kiri Real Madrid tak berkembang, terutama dalam membuat Fabio Coentrao nyaris tak berguna ketika Madrid melancarkan serangan.

Raul Garcia berhasil melakukan tiga kali tekel, empat kali intercept, dan memenangkan lima dari delapan duel udara yang dia lakukan. Jumlah tekel, intercept, dan duel udara yg dia lakukan pada paruh pertama pertandingan adalah yang terbaik dari seluruh pemain yg terlibat pada pertandingan tersebut. Raul Garcia hampir melakukan seluruhnya di sisi kanan wilayah Atletico, atau sisi kiri wilayah Real madrid. Arus serangan Madrid di sisi kiri, daerah yg biasanya menjadi sumber kekuatan Madrid dalam membangun serangan, sering terputus. Raul Garcia berhasil memininalisir Madrid untuk mengalirkan bola hingga ke attacking third di daerah menjadi area operasinya.

Namun pada menit ke-66, Raul Garcia ditarik keluar oleh Simeone, digantikan Jose Ernesto Sosa. Pada saat bersamaan Simeone mengganti formasi Atletico Madrid menjadi 4-2-3-1. Marcelo yg beberapa saat sebelumnya masuk untuk menggantikan Fabio Coentrao mulai menunjukkan aksinya. Sisi kiri Madrid yang sebelumnya meredup menjadi begitu hidup. Jose Ernesto Sosa tak mampu tampil seapik Raul Garcia dalam bertahan.Pergerakan Marcelo yg beberapa kali gagal diantisipasi Sosa memberikan tambahan tenaga kepada duet Angel Di Maria dan Cristiano Ronaldo untuk membuat Juanfran jatuh bangun tak karuan, dan menyebabkan stamina sang bek terkuras habis ketika memasuki babak tambahan. Tiga gol yg dicetak Madrid pada babak perpanjangan waktu berasal dari sisi kanan pertahanan Atletico.

Daya ledak Angel Di Maria

Gambar

Dengan bermain dengan formasi 4-2-3-1. Gabi yg semula bisa sering memberikan bantuan kepada Raul Garcia dan Juanfran dalam memproteksi sisi kanan pertahanan Atletico Madrid jadi tak seleluasa sebelumnya dan jarak antar lini Atletico yg semula rapat tampak terbuka. Perubahan formasi ini membuat Gabi dalam posisi dilematis. Jika Gabi tetap sering membantu sisi kanan pertahanan Madrid, Atletico hanya akan memiliki Tiago untuk melindungi  backfour. Hal ini kemudian membuat sisi sebelah kanan Atletico Madrid lebih terbuka dari sebelumnya. Gap antara Juanfran dan Sosa ini kemudian sering dimanfaatkan oleh Angel Di Maria.

Bermain sebagai seorang central midfielder, Di Maria tak jarang bermain lebih melebar. Secara eksplosif, Di Maria terus-terusan mengancam sisi kanan pertahanan Atletico Madrid. Dari 14 percobaan dribble yg ia lakukan, Di Maria enam kali sukses melakukannya. Salah satu dari dribble yg ia lakukan berbuah gol kedua Madrid yg diciptakan Gareth Bale, pemain yg harganya dua kali lebih mahal dari sebelas pemain inti Atletico Madrid pada pertandingan tersebut, sebagai informasi, harga Bale adalah sekitar 93 juta euro, sedangkan total harga sebelas pemain inti Atletico Madrid adalah 48,65 juta euro.

Luka Modric yg Bemain Lebih ke Dalam Pada Babak Kedua

Gambar

Ancelotti melakukan keputusan mengejutkan ketika lebih memilih Sami Khedira yg baru pulih dari cedera daripada Asier Illaramendi untuk menggantikan Xabi Alonso yg tak dapat tampil karena akumulasi kartu. Khedira memang lebih berpengalaman dalam partai besar daripada Illaramendi, tetapi menempatkan seorang pemain yg secara stamina belum pulih benar untuk menghadapi lini tengah Atletico yg terkenal powerful adalah sebuah kekeliruan. Terbukti, Khedira tampil canggung dan beberapa kali kalah duel dengan para pemain tengah Atletico Madrid.

Pada menit-menit awal babak kedua, Ancelotti memutuskan menarik keluar Khedira dan menggantikannya dengan Isco. Luca Modric kemudian bertukar posisi dengan Isco untuk mengisi peran yg dimainkan Khedira. Dari perubahan inilah Madrid kemudian berhasil mendominasi pertandingan babak kedua secara keseluruhan.

Bermain lebih ke dalam, Modric menunjukkan kelasnya sebagai salah satu gelandang terbaik di dunia. Di posisi tersebut, Modric terlalu elegan untuk disebut sebagai seorang holding midfierder. Tetapi, untuk disebut sebagai seorang deep-lying playmaker Modric juga terlalu sangar. Di samping menjadi pengumpan terbanyak di wilayah attacking third, dengan 34 kali umpan sukses dari 39 percobaan umpan yg dia lakukan, Modric juga melakukan 3 kali tekel dan 2 kali intercept dalam pertandingan tersebut. Agresivitas yg dimiliki Modric tak menganggu kemampuannya dalam mendistribusikan bola. Dalam pertandingan tersebut, tingkat akurasi Modric dalam memberikan umpan mencapai 89%, salah satu yg terbaik di antara pemain-pemain lainnya.

Tensi dan tempo pertandingan yg terus meningkat tak memengaruhi konsentrasi Modric untuk terus menciptakan harapan bagi anak-anak asuh Carlo Ancelotti. Penampilan Modric membuat Madrid tidak terlihat panik dan tegang meskipun dalam keadaan tertinggal.

Kesimpulan

Gambar

Sergio Ramos memang menjadi bintang kemenangan Real Madrid. Tanpa gol penyeimbangnya di menit akhir waktu normal, puasa gelar Real Madrid di Eropa akan terus berlanjut. Namun, tanpa kesalahan Diego Simeone dalam membaca situasi, tanpa daya ledak Angel Di Maria, dan tanpa ketenangan Luka Modric di pusat permainan, tidak akan ada perjalanan penuh pemandangan indah selama 120 menit untuk mencapai titik tujuan Real Madrid yg bernama: La Decima.!

Gambar

“Felicitaciones.! La Decima, Reyes de Europa.!”

Oleh: Renalto Setiawan (@Theceputhul)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s