Bersosialisasi itu Apa.?

Gambar

Ceritanya kurang lebih sebulan yg lalu gue di-tag dalam sebuah foto yg berisi undangan untuk datang ke acara launching novel baru dari salah satu sahabat gue yg cukup produktif di bidang menulis novel. Sebut saja namanya Supri. Di foto undangan itu ada hampir ratusan icon “Love”, “Smile”, “Laugh”, dan ada juga puluhan komentar penuh antusiasme mereka (yg sebagian besar adalah teman-teman gue juga). Ada juga yg bilang “Aku pasti datang.!”, “Sampe ketemu di sana ya!”, “Good luck bro.! See you there.!”, dan gue nggak komen apa-apa karena gue belum bisa memastikan bisa hadir atau enggak.

Hari H pun datang. Gue datang ke acara launching novel tersebut. Ternyata gue bisa hadir, karena hari itu gue lagi males jalan ama pacar-pacar gue. Sesampainya di venue, Supri sudah beraksi di atas panggung. Ada ratusan pembaca antusiasnya yang duduk di kursi-kursi yang tersedia di depan panggung.Terus gue nengok kanan-kiri, gue nggak nemu satupun orang yg komen penuh antusiasme di Path itu. Beberapa menit kemudian, baru deh dateng satu orang yg gue kenal. Hingga akhir acara, dari semua orang yg komen di Path, yg akhirnya hadir di acara itu memang cuma gue dan dia. “Yg lainnya.?” Mungkin masih sibuk nge-love-in poto-poto di Path.

Gue, sebagai orang yg hidup dan bergaul dari zaman belum ada internet, belum ada wifi, dan masih banyak T-rex yg memangsa manusia, hingga zaman yg didominasi oleh internet, merasakan perbedaan kualitas pertemanan. Sadar atau tidak, teknologi sudah membuat kita semakin merasa kesepian. Bisa kita compare zaman teknologi masih seadanya dan zaman sekarang deh. Dulu, ada sebuah ruangan di dalam rumah yg sebutannya ruang keluarga. Kenapa.? Karena di ruangan itu biasanya sekeluarga ngumpul bersama, nonton satu TV, dan kadang anak-anaknya saling bacok-bacokan buat rebutan remote TV. Tapi dengan kemajuan teknologi seperti sekarang, ruang keluarga jarang terisi. Ortu nonton TV di kamar, anak-anak main gadget di kamar masing-masing. “Ruang keluarga.?” Dipake pembantu nonton acara goyang-goyang ayan.

Di zaman serba internet ini, ada sebuah aplikasi yg mempermudah manusia untuk berkomunikasi dan bersosialisasi. Ada aplikasi untuk berkirim pesan (messenger), ada juga aplikasi untuk bersosialisasi dan berbagi banyak hal (Social Media).Aplikasi-aplikasi ini tentunya sangat mempermudah kita untuk berkomunikasi dengan sesama. Zaman gue kecil dulu, mau ngobrol temen, gue kudu dateng ke rumahnya. Itu pun belum tentu orangnya ada di rumah. Zaman sekarang, gue tinggal ngechat aja pake aplikasi messenger gue.Atau gue bisa nyusul di mana teman gue lagi nongkrong dengan petunjuk dari di mana dia check in lokasi social medianya. Bahkan, di zaman dulu gue bisa hafal, jam sekian, temen-temen gue pada nongkrong di mana. Mungkin itu insting bawaan ikatan hati kali ye..

Sayangnya, kemudahan-kemudahan yang ditawarkan aplikasi ini malah menciptakan efek candu kepada penggunanya. Karena untuk ngobrol sudah nggak perlu ketemu lagi, akhirnya para pengguna aplikasi yang udah kecanduan malah cenderung males ketemu.Gara-gara kebiasaan semacam ini, sebagian orang malah lebih sering menunjukkan simpati dibandingkan empati.

Padahal, buat gue, “Empati itu lebih penting daripada simpati, karena empati itu efeknya lebih terasa..”

Eh.. Empati dan Simpati itu bedanya apa sih, Al.?

Simpati: Hape lo rusak.? Sabar ya..

Empati: Hape lo rusak.? Tenang, lo boleh make punya gue kalo lagi butuh.

Atau,

Simpati: Lo lagi patah hati.? Yg kuat ya..

Empati: Lo lagi patah hati.? Tenang, lo boleh make pacar gue kalo lagi butuh.

Udah paham.?

Jadi, zaman gue sekolah dulu, kalo ada teman sekelas yg sakit, gue dan teman-teman pada patungan buat beli buah, terus jengukin anaknya rame-rame.Tapi di zaman serba internet ini, sebagian orang lebih milih buat ngetik “GWS ya.!” dibandingin ngejenguk di rumahnya. Zaman belum ada internet, ada teman ulang tahun kita bisa inget dan bawain kue ke rumahnya.Tapi di zaman sekarang, sebagian orang baru inget ultah teman karena diingetin facebook dan ngucapinnya cuma via social media dengan ucapan “HBD WYATB.!”

Secara tidak langsung, semua perbuatan simpati tanpa empati itu membuat ikatan sosial antara manusia semakin melemah. Tidak ada ikatan hati yg benar-benar kuat karena tidak banyak lagi perbuatan yg bisa dikenang. Secara, semuanya sudah terwakili oleh teks dan gambar doang.Apalagi untuk orang-orang yg benar-benar sudah kecanduan sama internet, mereka bakal berlomba-lomba untuk jadi eksis.Eksis dalam arti punya banyak orang yg dikenal, bukan punya banyak teman yg benar-benar teman. Mereka menargetkan pertemanan mereka bukan dari kualitas pertemanan, tapi kuantitas/jumlah teman.Kalo udah gitu, endingnya dia bakal punyak banyak teman, tapi sedikit yg benar-benar bisa memberi kepedulian yang nyata. “Kalo udah gini, bukannya dia tetap kesepian.?”

Gue, sebagai orang yang masih mencoba untuk mengimbangkan antara kehidupan sosial di dunia nyata dan di internet, kadang merasa kesal dengan ulah teman-teman yang terlalu kecanduan dengan sosial media. Paling sebal di saat kita janjian untuk ketemuan dengan harapan di sana gue bisa dengerin ketawa yg ada suaranya, bukan cuma emoticon semata. Tapi pada prakteknya, teman-teman gue malah pada nunduk, megangin gadget, senyum-senyum, dan meja kami hening.Misalpun gue nanyain tentang sesuatu buat buka topik obrolan, pertanyaan gue bakal dijawab satu menit atau dua menit kemudian setelah mereka kelar menjawab chat atau komen orang di social medianya.

“Don’t you know it sucks when you realize no one cares when you’re really there, and they get busy with someones who are not there.?”

Gue khawatir, kalo sampai kehidupan sosial bergeser ke arah digital semua, kelak misal kita nikahin anak-anak kita, nggak ada tamu yg dateng, tapi cuma ucapan “Semoga langgeng ya.!” di social media, dan sumbangan kondangannya ditransfer semua.Atau, kalo kelak kita meninggal, nggak ada yg ngelayat, tapi cuma ada ucapan “Turut berduka cita” di social media. ORANG YG UDAH MENINGGAL NGGAK BISA MAIN SOCIAL MEDIA, KALI..!!

So, dengan menulis postingan ini gue berharap, bukan memaksa, teman-teman mau menyeimbangkan kehidupan sosial di internet dan di kehidupan sosial di dunia nyata.Agar tercipta ikatan emosional yg nyata juga di sana. Kita imbangkan kembali fungsi pertemanan kita sebagai media untuk berbagi kebahagiaan dan kesedihan secara nyata. Saat teman sedih, jangan cuma dikasih emoticon peluk aja, tapi datengin, peluk danusap matanya. Gue yakin, cara itu lebih efektif untuk mengurangi kesedihannya.

“Di zaman serba internet ini, semua orang bisa bilang peduli, sayang, cinta, tapi cuma sedikit orang yg bisa nunjukin itu semua dengan perbuatan nyata..” 

Oleh: Alitt Susanto (@shitlicious)

Biarkanlah Sepak Bola Hidup Dalam Ketidaksempurnaannya

Gambar

“Some people believe football is a matter of life and death, I am very disappointed with that attitude. I can assure you it is much, much more important than that..” – Bill SHANKLY

Hanya sedikit orang yg mungkin tidak pernah membaca kutipan di atas. Terucap dari mulut mantan manajer legendaris Liverpool, Bill Shankly, kata-kata tersebut sering menjadi bahan refleksi apabila terjadi sebuah tragedi, entah itu baik ataupun buruk.

Jika kita sedang membahas fanatisme yg dimiliki para ultras dan hooligans, jelas kebanggaan akan klub bisa mengalahkan segalanya. Pukul sana, tendang sini. Selama hanya harga diri yg bisa dibawa mati, tak masalah menomorduakan kemanusiaan. Namun, ketika sudah menyentuh subjek “Tragedi Heysel” atau “Kematian Andres Escobar”, rasanya aneh jika melihat sebuah objek berbentuk bulat bisa membuat oknum-oknum tertentu memudahkan gairah akan olahraga yg “Hak Cipta”-nya masih dapat diperdebatkan ini sebagai tolak ukur pantas tidaknya seorang manusia untuk hidup.

“Bagi saya pribadi, sepak bola adalah cerminan dari hidup ini sendiri. Emosi dan hasrat akan melahirkan drama-drama baru di atas lapangan hijau. Tangis, tawa, kekecewaan, ataupun kebahagiaan adalah bukti bahwa kita hidup atas sepak bola, dan sepak bola hidup atas kita. Ya, setidaknya bagi kita yg jatuh cinta kepadanya..”

Dewasa ini, seiring dengan perkembangan teknologi, entah mengapa saya mulai merasa “hidup” saya menjadi terancam. Saya takut, di kala cucu saya mulai mengerti mengapa orang Inggris mengejek orang Amerika Serikat dan Kanada yang menyebut football sebagai soccer, cermin kehidupan itu sudah retak terinjak oleh industri yg terus merangkak menuju kemapanan.

Salah satu bukti terbaru terpampang jelas pada pertandingan antara Getafe melawan Atletico Madrid. Bukan, ini bukan soal keberhasilan penonton yg mengganggu konsentrasi Diego Costa ketika mengeksekusi penalti dengan cara yg kurang senonoh untuk ditunjukkan di muka umum. Ini adalah soal asisten pelatih Los Rojiblancos, German Burgos, yg menggunakan Google Glass untuk menganalisa jalannya pertandingan.

Jika dilihat dari kacamata staf kepelatihan, tak ada satu titik pun noda pada eksperimen yg diprakarsai oleh Universidad Catatolica San Antonio de Murcia (UCAM), La Liga, dan Mediapro ini. Bahkan, bisa dibilang ini adalah salah satu langkah kecil yg besar untuk kehidupan sepak bola dunia di masa mendatang.

Seusai laga, Burgos mengakui sendiri bahwa ia sangat terbantu dengan program tersebut. “Kacamata ini hebat. Ini sangat berguna bagi para pelatih. Anda melihat seluruh detail pertandingan pada waktu yang riil. Anda bisa mengatur terlebih dahulu apa yg ingin Anda lihat, dan sesudahnya Anda bisa memperbaiki hal-hal yg salah. Ini akan menjadi masa depan..” ujar pelatih asal Argentina itu dalam sesi wawancara.

Menurut Inside Spanish Football, Burgos memilih pengaturan agar dapat melihat statistik secara umum, perkembangan permainan, dan total tendangan pada area tertentu. Dengan terhubungnya Google Glass pada wifi, data akan otomatis terbaharui setiap 30 detik, atau bisa juga dengan melambaikan tangan di depan kacamata.

Yg lebih mengerikan adalah pernyataan dari LFP yg berniat membuat liga Spanyol menjadi liga terbaik di dunia dengan cara ini. Memaksimalkan teknologi demi meraih ketidaksempurnaan paling sempurna.Di sinilah ketakutan saya muncul. Sama halnya dengan teknologi garis gawang, yang amat sangat berpotensi merusak berbagai drama dalam sepak bola, penggunaan Google Glass juga memiliki potensi yg sama.

Salah satu seni dalam sepak bola adalah kepintaran pelatih dalam meracik taktik, membaca arus permainan, hingga mengetahui mentalitas para pemain. Ini adalah hal-hal yg selama ini saya agung-agungkan atas nama serendipitous.

Saya tidak bisa membayangkan apabila suatu saat nanti para pelatih melakukan pergantian pemain karena mengandalkan statistik yg terpampang di Google Glass. Kembali, sebenarnya tidak ada yg salah dari cara ini. Selama halal, tidak ada yg perlu diperdebatkan. Hanya saja, esensi akan hidup yg penuh kejutan itu bisa saja tererosi begitu cepatnya dalam lipatan ombak angka dan persentase.

Google Glass mungkin hanya salah satu alat dari puluhan atau bahkan ratusan alat yg nantinya akan diterapkan dalam sepak bola. Namun, justru kata “mungkin” tersebutlah yg membuat hati saya semakin tersayat. Saya tentu tidak ingin ada yg menemukan teknologi yg bisa membuat para pelatih dapat secara tepat membaca emosi pemain atau membuat wasit bisa menganulir gol kontroversial.

Saya takut, tidak akan ada lagi kontroversi-kontroversi yg kelak melegenda seperti gol tangan Tuhan Maradona, gol hantu Geoff Hurst, hingga yg terkini, kartu merah Kieran Gibbs yg sejatinya adalah bukti bahwa ketidaksempurnaan itu indah jika dilihat dari sisi memori.

“Selebrasi menghisap kokain ala Robbie Fowler.?” Jangan harap. “Tiga menit ajaib Manchester United di Nou Camp tahun 1999.?” Tidak akan dapat terulang karena pelatih lawan telah mengetahui taktik yg tepat untuk mematikan Ole Gunnar Solskjaer dan Teddy Sheringham.

“Bayangkan juga apabila Pep Guardiola tidak akan menurunkan Arjen Robben karena mengetahui bahwa pemain sayap asal Belanda tersebut sedang bermasalah dengan istrinya di rumah.?” Tentu tidak akan ada nada-nada yg tak terbaca dari setiap langkah para pemain di lapangan.

Sejujurnya, mungkin alangkah lebih baik jika teknologi seperti Google Glass hanya dapat digunakan seusai atau ketika jeda pertandingan. Biarkanlah setiap individu di lapangan mencari sendiri cara terbaik dan terindah untuk meraih kemenangan lewat daya pikir serta kreativitas mereka. Menganalisa setiap inci lubang yg menunggu takdir untuk terpeksploitasi, menjadi jebakan yg dalam bagi sang lawan.

Saya bukan seorang hipokrit yg menentang modern football. Saya adalah salah satu penikmat sejati dari kelonggaran menyaksikan liga-liga dunia secara gratis dari layar kaca. Hanya saja, tidak adil rasanya jika sang “modern” justru jadi memperketat kemungkinan keajaiban yg dapat terjadi.

Wanda-Nara-Mauro-Icardi-e-Maxi-Lopez-gossip-in-campo

Menyempurnakan sepak bola dengan jalan seperti ini adalah salah satu cara yg akan saya tentang selamanya. Saya mencintai olahraga ini justru karena ketidaksempurnaannya. “Bukankah Anda juga.?” Saya harap demikian. Karena jika kita mencintai kesempurnaannya saja, tidak mungkin ada “Derby Wanda” antara Maxi Lopez dan Mauro Icardi.

“Setidaknya, itulah bukti jelas betapa nilai akan hidup dapat tertuang dengan rapi di atas rumput hijau nan megah dalam alunan pengingkaran akan kesempurnaan..”

Oleh: Evans Edgar Simon (@eeepan)

Atletico yg Memberi Harapan

Gambar

Pada hari Sabtu malam (24/05/2014) lalu, mata pencinta sepak bola di seluruh dunia mengarah ke Estadio da Luz. Stadion yg menjadi tempat digelarnya perhelatan puncak Liga Champions musim ini, yg mempertemukan dua tim Spanyol dari kota yg sama, Madrid. Real Madrid vs Atletico Madrid.

Jujur, final ini mengingatkan saya akan final Liga Champions musim lalu antara Borussia Dortmund vs FC Bayern. Dua tim dari negara yg sama yang berhasil meruntuhkan tim-tim besar Eropa lainnya. Satu tim mengejutkan menghadapi sebuah tim unggulan yg sudah diprediksikan bakal melaju jauh di kancah terbesar Eropa tersebut.

Saya mungkin sudah berkali-kali berkata, bahwa Atletico musim ini laiknya Dortmund musim lalu. Sebuah tim mengejutkan yg tak memiliki banyak bintang di dalamnya, serta mengandalkan kolektivitas serta permainan yg membuat semua penggemar sepak bola terbelalak. Memiliki pelatih yg sama-sama memiliki semangat berapi-api dan berhasil menularkannya ke skuad, Atleti dan Dortmund membuktikan bahwa sepak bola masih mampu hidup tanpa dominasi uang didalamnya. Kedua tim ini jelas menjadi kesukaan banyak fans sepak bola netral yg muak akan triliunan rupiah yg dikeluarkan tim-tim kaya macam Real Madrid, Chelsea, Manchester City hingga Paris Saint-Germain untuk membangun skuadnya.

Gambar

Saya teringat sebuah pernyataan Juergen Klopp, pelatih Dortmund, yg berkata bahwa butuh waktu bagi timnya untuk bisa mendapat lebih dari satu gelar dalam satu musim. Kedalaman skuad menjadi masalahnya. Mereka pun mempertahankan tradisi membeli pemain-pemain muda yg terbilang potensial dan tak terlalu dikenal ketimbang membeli pemain bintang. Musim lalu,Dortmund tak maksimal tampil di Bundesliga 1 meski finis di peringkat dua, namun berhasil mengejutkan semua pihak dengan performa super di Liga Champions. Anda tentu ingat ketika El Real harus tunduk 1-4 karena quattrick Lewandowski. Sedangkan pada musim-musim sebelumnya, Dortmund lebih fokus di Bundesliga dan, terbukti, mereka mampu juara dua musim berturut-turut.

Sayangnya, Bayern bersama Jupp Heynckes-nya berhasil membuat mimpi Dortmund untuk menjadi jawara Eropa kandas. Die Borussen kalah di partai puncak dan membuat Bayern mengakhiri musim dengan merengkuh treble.

Ketika Klopp membutuhkan waktu setidaknya 3-4 tahun untuk membawa Dortmund menjadi jawara di negeri sendiri dan diperhitungkan di Eropa, mantan gelandang bertahan nan bengal asal Argentina, Diego Simeone, membuktikan bahwa tim “miskin” sebetulnya mampu meraih prestasi secara “instan”. Selama tiga tahun menjabat, sejak pertengahan musim 2011-12, sosok yg akrab disapa Cholo ini pelan tapi pasti memberikan gelar demi gelar kepada Atletico. Dimulai dari gelar juara Europa League 2012, lalu Piala Super Eropa di tahun yg sama, dan kemudian Copa del Rey 2013. Musim ini, Atletico berhasil menjungkalkan duopoli di Liga BBVA setelah menjadi kampiun dan membuat Real Madrid serta Barcelona, dua tim yg silih berganti mendominasi liga selama satu dekade terakhir, gigit jari.

Gambar

Bahkan Cholo nyaris membuat Atletico mengangkat dua trofi paling bergengsi sekaligus karena mampu membawa Los Rojiblancos ke final Liga Champions, dan menghadapi rival sekota mereka, yg jelas jauh lebih kaya. Mimpi para suporter Atletico untuk melihat timnya menjadi tim terbaik di Eropa tahun ini nyaris terealisasi setelah Atletico mampu memimpin 1-0 hingga 90 menit laga berlangsung meski tanpa dua pemain terpenting mereka, Diego Costa (yg hanya bermain delapan menit), dan Arda Turan, yg hanya mampu harap-harap cemas di pinggir lapangan karena cedera yg dialami.

Sayang, hasrat dan semangat sepanjang laga, plus pertahanan yg sangat ketat dan permainan keras, tak mampu membuat mereka bertahan di lima menit tambahan waktu. Gol Sergio Ramos pada menit 93 membuat Luis Aragones harus menangis dari surga. Pada babak tambahan pun, Anda seperti melihat Atletico yg panik, tegang, dan lelah. Tiga gol pun dilesakkan Gareth Bale, Marcelo, dan Cristiano Ronaldo ke gawang Thibaut Courtois. Atletico takluk, sementara Madrid meraih mimpi La Decima yg tersimpan sejak 2002. Anti-klimaks.!

Gambar

Dua deja vu terjadi pada laga ini. Pertama, tim yg digemari banyak fans netral, yg tak mengandalkan uang, harus kembali takluk oleh tim kaya. Atletico mengikuti jejak Dortmund di Liga Champions musim lalu yg terhenti di laga final.

Kedua, jalan cerita final musim ini tak berbeda jauh dengan 40 tahun lalu, ketika Atletico untuk pertama kalinya berhasil melaju ke final Piala Champions. Saat itu Luis Aragones nyaris membawa Los Rojiblancos mengangkat trofi tapi gagal. Gol tendangan bebas melengkung Aragones ke gawang Bayern Munich beberapa menit sebelum laga usai berhasil disamakan Hans-Georg Schwarzenbeck di masa injury time dan memaksa laga ulangan dua hari kemudian. Pada laga ulangan itu, Atletico dibantai 0-4.

Final Liga Champions musim ini pun mengingatkan kita pada kejadian itu. Atletico unggul lebih dahulu setelah gol Diego Godin dan Atletico berhasil membuat Real Madrid frustrasi. Tetapi, gol di masa injury time dari Sergio Ramos membuyarkan segalanya. Dan babak tambahan di laga ini mirip seperti laga ulangan di final Piala Champions 1974: Atletico dibuat tak berkutik seperti anak ayam.

Gambar

Anti-klimaks.? Tak sepenuhnya, Atletico sudah memberikan segalanya sepanjang musim ini. Gary Lineker berkata bahwa Atletico adalah tim yg paling memperlihatkan karakter pelatihnya sendiri. Ya, Simeone berhasil mentranformasi semua pemain di skuad menjadi dirinya. Haus akan kemenangan, keras, memiliki semangat yg menggebu dan luar biasa. Pun pada babak tambahan mereka memperlihatkan sisi negatif Simeone yg kelelahan dan kehilangan arah, tak ada tujuan.

Gambar

Anda tentu melihat momen dimana Simeone meminta fans tetap bersemangat sesaat gol Ramos, memaksa para pemainnya untuk tetap tenang meski kondisi berbalik. Walau pada akhirnya, emosi sang pelatih pecah di akhir lapangan karena tindakan Raphael Varane yg menendang bola ke arahnya.

Tangis dan kekecewaan pasti terjadi di pihak Atletico. Tetapi tak ada yg harus disesali. Raihan Atletico menjadi harapan tersendiri bagi tim-tim yg tak memiliki sumber dana melimpah. Atletico bersama Dortmund menjadi contoh bahwa dengan karakter dan niat besar, semua tim, tak terkecuali, bisa menghantam dan mempermalukan tim-tim besar nan kaya.

Gambar

Harapan seluruh fans Atleti hingga fans netral jelas: semoga Simeone tak tergiur uang yang pastinya ditawarkan oleh tim-tim besar lain demi merekrut dirinya. Kemudian membuat kisah indah sendiri bersama Atletico agar menjadi legenda sesungguhnya layaknya Helenio Herrera.

Menarik untuk menunggu kisah apa yg terjadi musim depan. Siapa lagi yg akan menjadi The Next Dortmund dan The Next Atletico.? Siapa lagi yg akan memperlihatkan taktik menawan yg berbeda dan menciptakan kejutan.? Dan mampukah Atletico kembali merusak dominasi Barcelona dan Madrid yg jelas akan banyak bergerak di bursa transfer musim panas ini.?  Pertanyaan-pertanyaan tersebut saat ini jauh lebih menarik ketimbang perkiraan pemain yg datang ke klub tertentu di bursa transfer nanti.

“Terima Kasih, Atleti.!”

Oleh: Redzi Arya Pratama (@redzkop)

120 Menit untuk Mencapai La Decima

Gambar

Bagi publik sepak bola Argentina, angka sepuluh tak jarang memiliki konotasi ke arah enganche, atau tipe playmaker khas Argentina. Menurut Hugo Asch, seorang jurnalis sepak bola asal Argentina, enganche adalah seorang pesepak bola layaknya seniman gundah yg sulit dimengerti banyak orang, yg kerap dianggap gila, tetapi adalah sesuatu yg salah bila dia berpikir waras.

Juan Roman Riquelme adalah salah satu enganche, atau pemain nomor sepuluh terbaik yg pernah ada di Argentina. Ekspresi wajahnya yg datar begitu kontras dengan kemampuan olah bolanya yg seperti sebuah ilmu sihir. Jorge Valdano, legenda sepak bola asal Argentina, pernah mencoba menggambarkan isi pikiran Riquelme melalui sebuah komentarnya:  Jika kita akan melakukan perjalanan dari titik A ke titik B, kita akan selalu mengambil rute tercepat ke titik tujuan tersebut. Tetapi Riquelme berbeda, dia akan memilih melalui jalan berkelok-kelok yg mungkin akan membutuhkan waktu sekitar enam jam perjalanan untuk sampai ke titik tujuan tersebut. Namun, dalam enam jam perjalanan tersebut dapat dipastikan mata kita akan dipenuhi oleh pemandangan yg sangat indah.

Bagi Real Madrid, angka sepuluh tentu mempunyai persepsi yang berbeda dibandingkan dengan publik sepak bola Argentina. Bagi mereka, angka sepuluh berarti “La Decima”, alias gelar juara Piala Eropa yg kesepuluh, yg dapat dijadikan sebagai simbol kedigdayaan mereka di Eropa.  Sebuah pencapaian yg menurut Iker Casillas lebih penting daripada menjadi juara Piala Dunia.

Menariknya, proses terakhir Madrid untuk mencapai La Decima yg mereka idam-idamkan tersebut sejalan dengan isi pikiran Juan Roman Riquelme yg digambarkan oleh komentar Jorge Valdano: berkelok-kelok, namun membuat mata kita dipenuhi dengan pemandangan sangat yg indah.

Tepat seminggu sebelum pertandingan final Liga Champions Eropa 2014 digelar, Atletico Madrid berhasil memastikan diri menjadi yg terbaik di kancah La Liga musim 2013-2014. Setelah pertandingan berakhir, Camp Nou, tempat di mana Atletico memainkan pertandingan terakhir liga sekaligus pertandingan yg amat menentukan, publik tuan rumah, alias para suporter Barcelona, dengan serentak memberikan standing ovation. Dongeng indah yg dibangun oleh Diego Simeone dan anak asuhnya memaksa suporter tuan rumah ikut berdiri berdampingan dengan suporter Atetico untuk memberikan apresiasi terhadap kesuksesan Atletico Madrid.

Atletico Madrid tentunya berharap dongeng indah tersebut tak berhenti di Camp Nou. Mereka berharap dongeng indah tersebut berakhir dengan kemenangan atas Real Madrid pada pertandingan final Piala Eropa 2014 yang digelar di stadion Da Luz, Lisbon, Portugal. Namun sayang, saat suporter mereka memberikan standing ovation kepada Raul Garcia ketika ia ditarik keluar pada menit ke-66, dongeng indah tersebut ikut berakhir. Setelah Raul Garcia ditarik keluar, malapetaka secara pelan tapi pasti datang menghampiri Atletico. Real Madrid berhasil bangkit, untuk kemudian membalikkan keadaan, Atletico Madrid sampai menit ke-66 masih unggul 1-0, dan berhasil meraih gelar kesepuluh yg begitu mereka damba-dambakan sejak 12 tahun yg lalu.

Setelah melalui babak perpanjangan waktu, Real Madrid akhirnya berhasil mengalahkan Atletico Madrid dengan skor 4-1 dengan tiga gol tercipta di 2×15 menit di luar waktu normal. Lalu, bagaimana itu bisa terjadi.?

Kesalahan Diego Simeone dalam Membaca Situasi

Gambar

Diego Simeone adalah orang paling berjasa atas prestasi yang berhasil diraih Atletico Madrid selama beberapa musim belakangan, yg mencapai puncaknya pada musim ini. Simeone mampu meracik skuad sederhana Atletico menjadi sebuah kekuatan mengerikan: agresif, powerful, dan selalu ingin menang. Namun sayang, di saat Atletico seharusnya membutuhkan racikan strategi yg tepat, Simeone justru melakukan beberapa kesalahan.

Tidak bisa dipungkiri, Diego Costa adalah senjata andalan Atletico Madrid di sepanjang musim ini. Mesin gol kelahiran Brasil ini sangat dibutuhkan untuk menghadapi tangguhnya lini belakang Madrid. Namun, apakah tidak akan menjadi masalah, apabila Diego Costa yg belum sembuh benar dari cedera dipaksa untuk tetap ambil bagian pada pertandingan tersebut.?

Pertandingan baru berjalan beberapa menit, cedera Costa kambuh. Simeone terpaksa melakukan pergantian pemain. Jatah pergantian pemain yg bisa digunakan pada saat-saat krusial, untuk perubahan taktik atau untuk mengganti pemain Atletico yg kelelahan pada akhir pertandingan, berkurang. Dengan pertandingan yang belum pasti akan berakhir dalam waktu 90 menit, Atletico tentu mengalami kerugian yg sangat besar. Kesalahan yang dilakukan Diego Simeone masih berlanjut pada pertandingan tersebut.

Pada paruh pertama laga, Raul Garcia tampil sangat tangguh di sisi kanan lapangan tengah Atletico Madrid. Menggantikan Arda Turan yg tak bisa tampil karena cedera, kemampuan defensif Garcia membuat sisi sebelah kiri Real Madrid tak berkembang, terutama dalam membuat Fabio Coentrao nyaris tak berguna ketika Madrid melancarkan serangan.

Raul Garcia berhasil melakukan tiga kali tekel, empat kali intercept, dan memenangkan lima dari delapan duel udara yang dia lakukan. Jumlah tekel, intercept, dan duel udara yg dia lakukan pada paruh pertama pertandingan adalah yang terbaik dari seluruh pemain yg terlibat pada pertandingan tersebut. Raul Garcia hampir melakukan seluruhnya di sisi kanan wilayah Atletico, atau sisi kiri wilayah Real madrid. Arus serangan Madrid di sisi kiri, daerah yg biasanya menjadi sumber kekuatan Madrid dalam membangun serangan, sering terputus. Raul Garcia berhasil memininalisir Madrid untuk mengalirkan bola hingga ke attacking third di daerah menjadi area operasinya.

Namun pada menit ke-66, Raul Garcia ditarik keluar oleh Simeone, digantikan Jose Ernesto Sosa. Pada saat bersamaan Simeone mengganti formasi Atletico Madrid menjadi 4-2-3-1. Marcelo yg beberapa saat sebelumnya masuk untuk menggantikan Fabio Coentrao mulai menunjukkan aksinya. Sisi kiri Madrid yang sebelumnya meredup menjadi begitu hidup. Jose Ernesto Sosa tak mampu tampil seapik Raul Garcia dalam bertahan.Pergerakan Marcelo yg beberapa kali gagal diantisipasi Sosa memberikan tambahan tenaga kepada duet Angel Di Maria dan Cristiano Ronaldo untuk membuat Juanfran jatuh bangun tak karuan, dan menyebabkan stamina sang bek terkuras habis ketika memasuki babak tambahan. Tiga gol yg dicetak Madrid pada babak perpanjangan waktu berasal dari sisi kanan pertahanan Atletico.

Daya ledak Angel Di Maria

Gambar

Dengan bermain dengan formasi 4-2-3-1. Gabi yg semula bisa sering memberikan bantuan kepada Raul Garcia dan Juanfran dalam memproteksi sisi kanan pertahanan Atletico Madrid jadi tak seleluasa sebelumnya dan jarak antar lini Atletico yg semula rapat tampak terbuka. Perubahan formasi ini membuat Gabi dalam posisi dilematis. Jika Gabi tetap sering membantu sisi kanan pertahanan Madrid, Atletico hanya akan memiliki Tiago untuk melindungi  backfour. Hal ini kemudian membuat sisi sebelah kanan Atletico Madrid lebih terbuka dari sebelumnya. Gap antara Juanfran dan Sosa ini kemudian sering dimanfaatkan oleh Angel Di Maria.

Bermain sebagai seorang central midfielder, Di Maria tak jarang bermain lebih melebar. Secara eksplosif, Di Maria terus-terusan mengancam sisi kanan pertahanan Atletico Madrid. Dari 14 percobaan dribble yg ia lakukan, Di Maria enam kali sukses melakukannya. Salah satu dari dribble yg ia lakukan berbuah gol kedua Madrid yg diciptakan Gareth Bale, pemain yg harganya dua kali lebih mahal dari sebelas pemain inti Atletico Madrid pada pertandingan tersebut, sebagai informasi, harga Bale adalah sekitar 93 juta euro, sedangkan total harga sebelas pemain inti Atletico Madrid adalah 48,65 juta euro.

Luka Modric yg Bemain Lebih ke Dalam Pada Babak Kedua

Gambar

Ancelotti melakukan keputusan mengejutkan ketika lebih memilih Sami Khedira yg baru pulih dari cedera daripada Asier Illaramendi untuk menggantikan Xabi Alonso yg tak dapat tampil karena akumulasi kartu. Khedira memang lebih berpengalaman dalam partai besar daripada Illaramendi, tetapi menempatkan seorang pemain yg secara stamina belum pulih benar untuk menghadapi lini tengah Atletico yg terkenal powerful adalah sebuah kekeliruan. Terbukti, Khedira tampil canggung dan beberapa kali kalah duel dengan para pemain tengah Atletico Madrid.

Pada menit-menit awal babak kedua, Ancelotti memutuskan menarik keluar Khedira dan menggantikannya dengan Isco. Luca Modric kemudian bertukar posisi dengan Isco untuk mengisi peran yg dimainkan Khedira. Dari perubahan inilah Madrid kemudian berhasil mendominasi pertandingan babak kedua secara keseluruhan.

Bermain lebih ke dalam, Modric menunjukkan kelasnya sebagai salah satu gelandang terbaik di dunia. Di posisi tersebut, Modric terlalu elegan untuk disebut sebagai seorang holding midfierder. Tetapi, untuk disebut sebagai seorang deep-lying playmaker Modric juga terlalu sangar. Di samping menjadi pengumpan terbanyak di wilayah attacking third, dengan 34 kali umpan sukses dari 39 percobaan umpan yg dia lakukan, Modric juga melakukan 3 kali tekel dan 2 kali intercept dalam pertandingan tersebut. Agresivitas yg dimiliki Modric tak menganggu kemampuannya dalam mendistribusikan bola. Dalam pertandingan tersebut, tingkat akurasi Modric dalam memberikan umpan mencapai 89%, salah satu yg terbaik di antara pemain-pemain lainnya.

Tensi dan tempo pertandingan yg terus meningkat tak memengaruhi konsentrasi Modric untuk terus menciptakan harapan bagi anak-anak asuh Carlo Ancelotti. Penampilan Modric membuat Madrid tidak terlihat panik dan tegang meskipun dalam keadaan tertinggal.

Kesimpulan

Gambar

Sergio Ramos memang menjadi bintang kemenangan Real Madrid. Tanpa gol penyeimbangnya di menit akhir waktu normal, puasa gelar Real Madrid di Eropa akan terus berlanjut. Namun, tanpa kesalahan Diego Simeone dalam membaca situasi, tanpa daya ledak Angel Di Maria, dan tanpa ketenangan Luka Modric di pusat permainan, tidak akan ada perjalanan penuh pemandangan indah selama 120 menit untuk mencapai titik tujuan Real Madrid yg bernama: La Decima.!

Gambar

“Felicitaciones.! La Decima, Reyes de Europa.!”

Oleh: Renalto Setiawan (@Theceputhul)

Pressing dan Agresivitas Atletico yg Dipecahkan Taktik Pergantian Pemain

Gambar

Real Madrid menjuarai Liga Champions 2013/2014 usai mengalahkan rival sekota, Atletico Madrid, dengan skor telak, 4-1.Skor akhir seperti menunjukkan Real mendominasi, padahal jalannya laga tidak sesederhana selisih gol telak itu.

Gelar kesepuluh Real di ajang Liga Champions diraih dengan jalan yg terlihat kontras. Jika selama 93 menit (saat masih tertinggal 0-1) semuanyaseperti terlihat begitu sulit bagi Los Blancos, 30 menit setelahnya (di babak perpanjangan waktu usai gol Sergio Ramos) segalanya tampak begitu mudah.

Hal sebaliknya terjadi pada Atletico. Kesebelasan asuhan Diego Simeone ini bermain meyakinkan sepanjang 93 menit. Agresif di semua area, solid dalam bertahan, percaya diri dalam memegang bola bahkan walau di pertahanan sendiri, semangatyg terlihat menggebu-gebu,  juga daya tahan fisikal yg rasanya seperti melampaui batas yang mereka miliki. Tapi setelah gol Sergio Ramos di injury time itu, semuanya terlihat begitu berat, payah dan akhirnya terasa menyedihkan bagi Gabi dkk.

Dominasi Tanpa Possession

Gambar

Di babak I, Atletico unggul 1-0 berkat gol Diego Godin memanfaatkan kesalahan Iker Casillas yg salah antisipasi. Skor ini sampai batas tertentu menggambarkan bagaimana dominasi Atletico atas rival sekotanya ini sepanjang babak I.

Penguasaan bola memang dikuasai El Real dengan perbandingan sekitar 55% berbanding 45%. Tapi hampir dalam banyak aspek, anak asuh Simeone lebih mendominasi permainan. Ini bisa dilihat,misalnya, dalam hal percobaan mencetak gol. Jika Atletico berhasil membuat lima percobaan mencetak gol, Real hanya membuat dua percobaan,itu pun lahir dari tendangan bebas langsung Ronaldo dan upaya Bale yg bermula dari kesalahan umpan Thiago.

Atletico bahkan sanggup membuat pemain-pemain penting Real di lini serang tak pernah menyentuh bola di dalam kotak penalti. Angel Di Maria, Cristiano Ronaldo dan bahkan Karim Benzema yg diplot sebagai target-man sekali pun tak pernah menguasai bola di kotak penalti. Hanya satu kali pemain Real bisa menguasai bola di kotak penalti, Gareth Bale, yg masuk ke dalam kotak penalti, itu pun dimulai kesalahan umpan pemain Atletico (Thiago).

Agresivitas dan pressing yang berani dilakukan di wilayah lawan sangat menyulitkan Real mengembangkan permainan.Di tengah, Gabi dan Thiago melakukan hal yg sama. Tiap kali pemain Real menguasai bola, 2-3 pemain Atleti langsung mendekat. Saat Real mencobamenyusun serangan dari belakang, tak jarang bahkan sampai tiga pemain Atletico memberi tekanan yaitu Adrian (masuk menggantikan Costa di menit ke-8), David Villa, dan Koke.

Saat serangan mereka gagal, dengan sangat cepat pula mereka kembali ke garis pertahanan. Real Madrid tak pernah unggul jumlah pemain di pertahanan Atletico, bahkan walau mereka melakukan serangan balik sangat cepat yg di babak semifinal dengan gemilang berhasil meluluh-lantahkan Bayern Munich.

Dengan skema yg agresif dalam melakukan pressing seperti ini, juga recovery yg cepat dan compact, peran Villa-Adrian menjadi penting.Keduanya selalu berusaha memastikan pressing yg agresif itu bisa digelar sedini mungkin, bahkan walau Real sedang menguasai bola di daerah sendiri.

Ini memastikan Real tak nyaman menyusun serangan dari belakang dan terpaksa sering melakukan clearance. Jangan heran jika statistik clearance Real di babak I sampai tiga kali lebih banyak ketimbang Atleti (6 berbanding 2). Padahal Real hanya menyerang secara sporadis lewat serangan balik.

Taktik dengan penerapan pressing ketat tersebut, lantas dikombinasikan dengan garis pertahanan yg dalam.Fungsinya tak lain untuk menghindari adanya celah ketika pemain Madrid melakukan umpan terobosan yg bisa sangat berbahaya jika dikejar para pelari cepat seperti Bale, Ronaldo atau Di Maria.

Mengunci Poros Khedira-Modric dan Sayap

Gambar

Ancelotti mengambil keputusan krusial dengan memilih Sami Khedira ketimbang Illaramendi untuk mengisi posisi yg ditinggalkan Xabi Alonso yg absen karenaakumulasi kartu. Ini keputusan krusial, terlebih Khedira hanya punya 117 menit bermain sepanjang 2014 menyusul cedera yg dideritanya November 2013 lalu.

Pilihan ini terbukti menjadi problem. Khedira bukan hanya terlihat kesulitan menggantikan peran Alonso, tapi juga kalah agresivitas dibanding duet Gabi-Thiago di jantung lini tengah Atletico.Akibatnya, Modric harus lebih banyak sibuk di kedalaman, dan mengurangi intensitasnya untuk naik ke depan untuk menyambung lini tengah dengan lini depan Real.

Ini problem Real di babak I. Dengan Ronaldo lebih sering berdekatan dengan Benzema, maka Di Maria yg lebih banyak bergerak di sisi kiri. Praktis Madrid hanya menyisakan Khedira-Modric di lini tengah, itu pun lebih sering tertahan di wilayah sendiri. Dalam skema seperti ini, Madrid bisa dibilang bermain dengan 4-2-4.

Boleh jadi ini pilihan taktikal yg sejak awal sudah diambil oleh Ancelotti. Dia menginstruksikan anak asuhnya untuk tak meladeni agresivitas Atleti di tengah, tapi lebih memilih melebarkan permainan.Sayangnya, serangan dari lebar lapangan ini juga tak berhasil. Bale relatif “sunyi” di babak I. Di Maria tampil lebih baik dan sanggup merepotkan Juanfran. Tapi Atleti berhasil “mengatasinya” dengan tak segan-segan mengambil risiko melakukan pelanggaran terhadap Di Maria.

Dalam situasi ini, kehilangan Alonso akhirnya terasa signifikan. Tak ada bangunan serangan yg bisa dimulai dengan umpan-umpan panjang mengejutkan untuk dikejar para pelari seperti Bale, Ronaldo atau Di Maria. Dengan sibuknya Modric di kedalaman, sehingga aliran bola dari tengah juga terputus, jangan heran jika serangan Madrid dari tengah sepanjang babak I tak pernah bisa menembus final-third.

Cara Menyerang Atletico

Gambar

Kendati menguasai permainan (walau kalah dalam jumlah penguasaan bola), Atletico punya sedikit problem tiap kali memasuki final third. Kesebelasan yang bermarkas di Vicente Calderon ini bisa memproduksi umpan di final third lawan dalam jumlah yg lebih banyak dibanding yg dilakukan Real. Tapi seringkali serangan itu tak terlalu efektif karena dua penyerang mereka Villa dan Adrian (yg masuk menggantikan Costa) sering cukup disibukkan untuk bermain lebih ke dalam atau ke sisi lapangan. Villa sering turun ke bawah, Adrian banyak melebar mengisi pos yg ditinggalkan Garcia yg kerap turun membantu Juanfran mengatasi agresivitas Di Maria.

Di babak I, tak terlihat ada opsi lain. Tanpa Arda Turan, Simeone kesulitan merancang opsi lain dalam penyerangan. Tak ada pemain yg bisa dengan cukup mahir menahan dan memainkan bola di wilayah Madrid. Dominasi Atleti di final third sendiri lebih banyak dibangun melalui serangan balik dan umpan-umpan panjang ke kotak penalti yg dikirimkan dari lebar lapangan.

Hanya saja, ini bukan problem yg serius bagi Atletico. Situasi ini bukan handicap buruk Atleti. Musim ini mereka sangat berbahaya dalam situasi-situasi bola mati. Selama lawan bisa dikendalikan keganasan serangannya, Atleti hanya perlu menunggu satu momen dalam bola mati yg bisa dimaksimalkan. Dan itulah yg terjadi dengan gol Diego Godin.

15 Menit Pertama Babak II

Gambar

Fase paling menarik sepanjang final Liga Champion kali ini terjadi pada 20 menit pertama babak II. Kedua tim melakukan beberapa perubahan yg membuat permainan jadi lebih terbuka.

Dari sisi Atletico, mereka justru lebih sabar dalam menahan dan memainkan bola. Aliran bola dari belakang ke tengah dan kemudian dikirim ke lebar lapangan dilakukan dengan lebih tertata. Hal ini bisa kita lihat di awal babak kedua, ketika Atletico bermain lebih menyerang daripada Real Madrid. Area bermain Gabi di awal babak II, misalnya, bisa lebih aktif membantu ke depan.

Gabi dan Thiago punya ruang lebih nyaman di tengah karena di fase ini, Di Maria justru sudah “resmi” bermain di flank kiri dan lebih berani menggantung di final third dan tak lagi mencoba membantu Modric-Khedira di tengah.

Di satu sisi itu membuat Atletico bisa lebih nyaman mengatur dan mengalirkan bola ke tengah, tapi di sisi lain ini juga berhasil membuat Madrid lebih berbahaya ketimbang babak I. Perubahan cara dan posisi bermain Di Maria ini terbukti membuat sisi kiri penyerangan Madrid lebih efektif dalam membongkar pertahanan Miranda, dkk. Kuncinya pada pilihan mendorong Ronaldo untuk lebih konstan berada di dalam kotak penalti dan menyerahkan sepenuhnya sisi kiri pada Di Maria.

Hanya dalam 15 menit, anak asuh Don Carlo ini sudah mampu membuat 3 percobaan mencetak gol. Salah satunya (menit 55) “harusnya” sudah menjadi gol saat umpan silang Di Mariagagal dieksekusi Ronaldo di depan gawang lewat sundulan. Ini peluang yg menjadi makanan sehari-hari bagi Ronaldo sebenarnya. Selama 15 menit pertama di babak II ini, Ronaldo berhasil membuat 3 kali percobaan mencetak gol , 2 di antaranya lahir dari dalam kotak penalti.

Perubahan Krusial dengan Masuknya Isco dan Marcelo

Gambar

Memasuki 30 menit terakhir babak II, Ancelotti melakukan dua perubahan krusial dengan memasukkan Isco dan Marcelo menggantikan Khedira dan Fabio Coentrao. Dua perubahan ini terbukti sangat krusial dalam mengubah jalannya permainan.

Masuknya Marcelo agaknya sebagai respons Ancelotti atas peluang-peluang yg dicetak Real dari sisi kiri yg dibangun Di Maria. Dengan Marcello masuk, maka ada dua pemain di sisi kiri yg punya kemampuan memegang bola dan menggiring bola. Ini memaksa konsentrasi lini pertahanan Atleti bertambah. Ada problem kecil yg terbukti sulit diantisipasi: menjaga Di Maria atau menutup ruang gerak Marcelo.

Inilah yg menjadikan Atletico bermain lebih lebih dalam. Jika di awal babak II, Gabi berani lebih aktif memasuki final third, masuknya Marcelo memaksanya untuk lebih turun ke bawah dan bahkan bermain lebih ke sisi lapangan, membantu Juanfran-Raul Garcia untuk mengatasi kombinasi Di Maria-Marcelo.

Keberhasilan Marcelo dalam memecah konsentrasi lawan yg memungkinkan Di Maria lebih bebas bergerak dan berlama-lama memegang bola untuk menambah opsi serangan Real Madrid. Hal ini juga tak terlepas dari kecerdikan trio lini depan Real Madrid yg berhasil menjadi decoy untuk memberi ruang bagi Di Maria. Itulah kenapa pada pertandingan kemarin, Di Maria terlihat lebih menonjol jika dibandingkan dengan trio lini depan El Real.

Peran Modric dan DominasiReal di Lini Tengah

Gambar

Pada analisis babak I, sudah disebutkan bahwa problem lini tengah Madrid adalah kegagalan Modric dan Khedira menjadi penghubung dengan lini depan. Masuknya Marcello mengubah situasi ini. Dan di sinilah secara taktikal Ancelotti memperlihatkan kejeliannya.

Masuknya Marcelo yg mengubah peta permainan, terutama di sisi kiri, terutama dengan menekan Gabi untuk bermain melebar, dengan sendirinya memberi ruang yg lebih terbuka di lini tengah. Masuknya Isco memungkinkan Real lebih nyaman mengatur dan menyusun serangan sejak lini tengah. Situasi ini tak akan muncul tanpa masuknya Marcello. Jadi pergantian Marcello dan Isco memang satu paket taktikal.

Imbas yg paling jelas dari perubahan situasi ini adalah lebih bebasnya area bergerak Modric. Setelah menit 60, Modric bisa lebih enak memasuki final third. Ini tak terlihat di babak I di mana Modricbahkan tak pernah sekali pun membuat umpan di final third Atletico.

30 menit terakhir babak II Atleti praktis bermain lebih ke dalam. Mereka turun jauh ke dalam pertahanan, membiarkan Real menguasai lini tengah dan menunggu serta mencegat Real hanya ketika sudah memasuki final third.

Mayoritas tekel tersebut dilakukan di daerah pertahanan sendiri. Ini kontras jika dibandingkan dengan apa yg dilakukan Atletico pada babak pertama. Demikian juga dengan 19 kali clearances dari total 27 clearances sepanjang 90 menit pertandingan. Artinya, sekitar 70% clearances dilakukan pada 30 menit terakhir setelah Isco masuk. Kecenderungan Atletico diserang terus-terusan sepanjang 30 menit terakhir.

Lagi-lagi ini tidak serta-merta menjelaskan Atleti sudah mulai kepayahan, ini justru cara mereka bermain jika menghadapi tim-timdengan kualitas yg lebih unggul. Cara ini juga yang mereka lakukan saat mengunci gelar La Liga di Nou Camp, kandang Barcelona, pada pekan sebelumnya.

Dilema Man to Man Marking

Gambar

Dengan penjelasan taktikal itulah tidak mengherankan jika Real bisa memproduksi 10 percobaan mencetak gol di babak II, bandingkan di babak I yg hanya membuat 2 percobaan.

Akan tetapi, di luar gol Ramos saat injury time, 9 percobaan itu tak ada satu pun yg menemui sasaran. Artinya, kendati permainan dan penguasaan bola sudah dikuasai Real, tapi Atletico masih sanggup mengendalikan area pertahanannya sendiri.

Kuncinya adalah cara bertahan man to man marking. Di babak I, mereka melakukannya bahkan sejak lini tengah. Di babak II, mereka melakukannya di daerah pertahanan sendiri. Mereka membiarkan Real mendominasi lini tengah, tapi begitu masuk ke final third, pemain-pemain Real tak diberi kesempatan berlama-lama menguasai bola. Karena ini pula Ancelotti menukar Benzema yg cenderung statis di dalam kotak penalti dan kurang maksimal memainkan peran sebagai target-man dengan Moratta.

Cara ini, sayangnya, meninggalkan lubang kecil nan detail yg menganga justru di menit krusial. Ada yg ganjil dengan cara bertahan Atleti saat menghadapisepak pojok. Sejak babak I, tiap kali Real mendapat sepak pojok, tak pernah ada satu pun pemain Atleti yg berdiri di dekat tiang. Mereka sangat percaya diri untuk melakukan penjagaan terhadap pemain, termasuk saat menghadapi sepak pojok.

Sepanjang 93 menit, cara ini berhasil menangkap semua upaya Real. Tapi pada menit 93, saat Real mendapatkan sepak pojoknya yg terakhir, cara ini menjadi lubang hitam yg terbukti mengandaskan mimpi Atletico meraih gelar juara Liga Champions untuk pertama kalinya. Sundulan Ramos ke sisi kanan gawang yg dijaga Courtois tak bisa dibendung.

“Andai saja ada satu orang pemain yg berdiri di dekat tiang, sundulan itu dengan mudah bisa dihalau. Sayangnya, sejarah tak mengenal kata andai..”

 Problem Kebugaran dan Jatah Pergantian Pemain

WP9

Setelah gol Ramos, segalanya terlihat menjadi lebih mudah bagi Real dan semuanya tampak begitu sulit bagi Atletico. Selalu tidak mudah menghadapi perpanjangan waktu dengan situasi mental yg patah karena gol penyama kedudukan di injury time, saat pelupuk mata para pemain Atleti sudah membayangkan trofi Si Kuping Besar. Ini juga terjadi saat Atleti menghadapi Bayern Munich pada final Piala Champions 40 tahun lalu.

Secara fisik, Atleti juga terlihat lebih letih ketimbang Real. Jatah pergantian pemain mereka sudah habis pada menit 83 saat Felipe Luis yg cukup sukses menghadapi Gareth Bale di sisi kanan digantikan Toby Alderweireld karena mengalami cedera. Di menit-menit akhir, Juanfran juga terlihat mengalami problem, tapi jatah pergantian telanjur habis.

Di sinilah pilihan Simeone memainkan Diego Costa menjadi problem. Costa hanya sanggup bermain selama 8 menit dan digantikan Aldrian. Pergantian pemain di menit 8 jelas situasi yg jauh dari ideal. Ini sama saja Simeone hanya punya jatah 2 pergantian pemain. Masuk pada menit 8 menggantikan Costa, maka Adrian menit bermainnya sudah hampir sama seperti pemain yg turun sebagai starter.

Simeone, dalam konfrensi pers setelah pertandingan, mengakui itu sebagai kesalahannya. Ini mengafirmasi apa yg pernah diucapkan Arrigo Sacchi, salah seorang tactician yg dikenal freak dengan taktik, yg pernah mengatakan kalau mengganti pemain karena cedera sebagai kerugian taktika,  apalagi jika terjadi saat laga belum sampai 10 menit.

Keteteran di menit 90-120 juga menjelaskan, sampai batas tertentu, betapa Atleti memang sangat amat siap untuk bertarung dengan segala cara sepanjang 90 menit di waktu normal. Ini yg membuat mereka sanggup meraih gelar La Liga. Keteteran di perpanjangan waktu di laga ini mesti dipahami sebagai kesiapan taktikal dan fisikal untuk bertarung 90 menit. Atleti, akhirnya, terlihat sangat siap menghadapi kompetisi panjang seperti La Liga.

Kesimpulan

WP11

Laga ini berakhir dengan menyedihkan bagi Atletico. Bermain dengan sangat baik, mampu memblokade semua upaya dan cara Real menembus pertahanan selama 93 menit, tapi semuanya bertantakan karena (mula-mula dan yg utama) “lubang kecil” yg terjadi saat pluit panjang hanya tinggal 2 menit tersisa.

Jika kesibukan Simeone selama babak I dan II adalah kesibukan yg mencoba terus menerus merancang taktik dan mengantisipasi perubahan taktikal yg dilakukan Ancelotti. Dan dengan inilah Simeone mencatatkan namanya sebagai pelatih top Eropa. Agresivitas di tepi lapangan adalah cermin agresivitas anak asuhnya sepanjang 90 menit di semua pertandingan La Liga. Seperti halnya Simeone yg saat menjadi pemain cenderung bermain keras dan agresif, ketimbang stylish ala Redondo atau Ancelotti, ini pula yg diperlihatkan anak asuhnya.

Kesibukan Simeone di tepi lapangan pada 30 menit perpanjangan waktu adalah kesibukan seseorang yg sudah nyaris tak punya banyak pilihan taktikal selain sekadar memotivasi dan mengingatkan konsentrasi anak asuhnya. “Pitch invasion” Simeone pada babak perpanjangan waktu lebih mirip respons seorang gelandang bertahan destroyer [tipikal permainannya saat menjadi pemain dulu]ketimbang seorang tactician. Saat anak asuhnya sudah begitu letih untuk bermain agresif, Simeone lantas mengambil alih peran itu langsung.

Sementara Ancelotti, dengan ketenangannya, terus menerus mencoba berbagai cara membongkar skema dan taktik Simeone. Pada dingin yg terpapar di wajahnya itu, juga pada gerak-geriknya sepanjang laga, Ancelotti mencoba meneguhkan dan memperlihatkan kapasitasnya sebagai seseorang yang sudah 4 kali tampil di final Liga Champions sebagai juru taktik.

Gelar La Decima adalah pencapaian sejarah yg menakjubkan bagi Real. Sementara bagi Ancelotti, ini semakin menegaskan kelasnya sebagai tactician yg punya aura tersendiri di Eropa. Jika Galliani dengan congkak pernah mengklaim ada DNA Eropa di tubuh AC Milan, maka Ancelotti yg santun tentu tak akan mengklaim itu untuk dirinya, kendati dia sudah membuktikan ada DNA Eropa di pikirannya sebagai juru taktik.

“Felicitaciones.! La Decima, Kings of Europe.!”

Oleh: PanditFootball.com (@panditfootball)

 

UEFA Cup Final 2000/01: Liverpool prevail in nine-goal thriller

Gambar

An incredible final between the then four-time European champions Liverpool FC and Spanish surprise package Deportivo Alavés swung back and forth before being decided by a Delfi Gelí own goal late in extra time.

Gambar

Liverpool FC 5-4 Deportivo Alavés (aet)
(Babbel 4’ – Gerrard 16’ – McAllister 41’ (p) – Fowler 73’ – Gelí (og) 116’ – Alonso 27’ – Javi Moreno 48’ & 51’ – Cruyff 89’)
Westfalenstadion, Dortmund.

Gambar

They were an odd couple, Deportivo Alavés and Liverpool FC. The former had not a single domestic title to their name; the latter, the largest trophy cabinet in English football. Together they were the perfect match.

Or rather the 2001 UEFA Cup final they contested seemed like the perfect match. Europe had seen nothing like it since the 1950s when Real Madrid CF were making hay and headlines. The only pity was that it had to be won and lost so cruelly: the ‘golden goal’ separating the sides was, in fact, an own goal scored by the Alavés full-back Delfi Gelí four minutes from the end of extra time. Enough to give Liverpool a 5-4 victory and a third UEFA Cup.

The Merseysiders, resurgent under French coach Gérard Houllier, had come through a tough draw with only one blemish to their name – a 1-0 home defeat by AS Roma. Yet they had already won 2-0 in Rome, so Italy’s champions-elect joined an A-list of victims that included Olympiakos CFP, FC Porto and FC Barcelona. Meanwhile, Alavés had stunned Italian watchers by knocking out FC Internazionale Milano at the San Siro in the fourth round. The Basque club had already shown themselves to be no respecters of reputation by rising out of Spain’s third division under the charismatic leadership of coach José Manuel Esnal ‘Mané’.

Now they were European iconoclasts as well. Something 1. FC Kaiserslautern learnt to their cost in the semi-finals, where Alavés put nine goals past them. However, Liverpool were a bit more durable than the German side. So while Iván Alonso, Javi Moreno (twice) and Jordi Cruyff scored for the team in yellow and blue, Markus Babbel, Steven Gerrard, Gary McAllister and Robbie Fowler registered for the reds.

“Walk on, With hope in your heart .. You’ll Never Walk Alone..” #YNWA

 

UEFA Champions League Final 2004/05: Liverpool belief defies Milan

Gambar

Trailing 3-0 to AC Milan at half-time in the UEFA Champions League final, the writing seemed to be on the wall for Liverpool FC, but what followed in Istanbul was a legendary comeback which made the reds five-time European champions.

Gambar

AC Milan 3 – 3 Liverpool FC (aet, Liverpool win 3-2 on penalties)
(Maldini 1’ – Crespo 39’ & 44’ – Gerrard 53’ – Šmicer 56’ – Alonso 60’)
Atatürk Olimpiyat, Istanbul.

Gambar

Liverpool FC returned to the top of European football in thrilling style with a remarkable UEFA Champions League final victory against AC Milan. Trailing 3-0 at half-time in Istanbul, Rafael Benítez’s side stormed back in the second half with three goals in seven minutes to set up a dramatic penalty shoot-out triumph. Andriy Shevchenko, scorer of the winning spot-kick in the 2003 final against Juventus, was this time denied by goalkeeper Jerzy Dudek to give Liverpool a famous victory.

Gambar

Paolo Maldini’s fastest ever goal in a UEFA Champions League final and two from Hernán Crespo looked to have secured Milan’s third UEFA Champions League crown, but second-half goals by Liverpool’s talismanic captain Steven Gerrard, Vladimír Šmicer and Xabi Alonso wiped out Milan’s seemingly unassailable half-time advantage.

Gambar

Just reaching the final had had Liverpool fans pinching themselves in disbelief. Their side had been defeated by Grazer AK at Anfield in the third qualifying round and then looked to be on their way out in the group stage until a thunderous, late Gerrard strike gave them the 3-1 victory against Olympiacos CFP they needed to advance. Bayer 04 Leverkusen were brushed aside in the Round of 16 to set up an emotional meeting with Juventus FC in the quarter-finals. The tie marked the first time the two sides had met in a competitive match since the Heysel Stadium tragedy on 29 May 1985 when 39 people lost their lives at the final of the European Champion Clubs’ Cup in Brussels.

After a 2-1 victory at Anfield, a superb defensive performance by Liverpool saw off Juve in Turin. Suddenly, Reds fans dared to believe. Chelsea FC were up next in an all-English encounter which Liverpool narrowly won thanks to Luis García’s strike at Anfield, the only goal of the tie. Benítez, a UEFA Cup winner the year before with Valencia CF, had led Liverpool to the final for the first time in 20 years, but few tipped them to overcome Milan in Istanbul.

After finishing top of their group, the Serie A champions had convincingly defeated Manchester United FC and city rivals FC Internazionale Milano without conceding a goal to reach the final four. PSV Eindhoven pushed them hard in the semi-finals, winning the second leg 3-1 but bowing out on the away-goals rule, but Milan still went into the final as favourites. That billing looked set to be confirmed when Maldini scored after just 52 seconds. But Liverpool had other ideas as they struck back to claim the European Champion Clubs’ Cup trophy for the fifth time.

Walk on, With hope in your heart.. You’ll Never Walk Alone..” #YNWA

Gambar